kota-meikarta

“Badai Meikarta” lumpuhkan produk pesaing

KOTA MEIKARTA CIKARANG

Aku ingin Pindah Ke Meikarta” .. kata-kata iklan yang tidak asing lagi bagi kita.

Meikarta Adalah sebuah Fenomena yang menarik untuk di perhatikan karena muncul dengan Gebrakan yang luar biasa. Di awal peluncuran Lippo Group menyebut Kota Meikarta Cikarang sebagai Kota Jakarta Baru yang akan lebih indah dari Jakarta bahkan Meikarta Cikarang akan menyaingi kota jakarta. Untuk itu Kota Meikarta akan di lengkapi berbagai infrastruktur modern misal akan dibuat  Jalan 4 tingkat.

Mega Project Kota Meikarta diperkirakan akan menelan biaya 278 Trilyun, ini merupakan sebuah angka yang besar sekali. Dan Lippo Group pun mengakui kalau Meikarta akan Project terbesar yang pernah mereka kerjakan selama group ini berdiri.

Kehadiran Meikarta Cikarang ternyata membuat dampak yang luar biasa  yang melupuhkan project-project sekitarnya. Meikarta seperti sebuah Tsunami besar buat developer di Koridor timur Jakarta ( bekasi – Cikarang – Karawang). Betapa Tidak Meikarta hadir dengan iklan yang luar biasa besar dan penawaran harga yang sangat murah. Ini yang membuat Developer lain tidak bisa menyaingi Meikarta Lippo Cikarang. Developer di sekitar Cikarang Sekarang banyak yang melakukan penundaan untuk proyek Apartment nya.

Iklan Meikarta memenuhi tiap sudut dan relung kota dalam bentuk baliho, spanduk, standing banner, dan juga materi iklan verbal, visual, serta digital.

Lippo Group mempromosikan Meikarta ke berbagai media, mulai dari baliho serta pusat perbelanjaan. Tak lupa, surat kabar, televisi, hingga situs berita online. Di surat kabar, misalnya, Meikarta Lippo Cikarang bisa memasang iklan hingga lebih 5 halaman penuh setiap harinya di berbagai Surat kabar terkenal.

Bahkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) sebelumnya sempat mengkritik promosi Meikarta yang begitu masif. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan promosi, iklan, dan pemasaran Meikarta yang begitu masif, terstruktur dan sistematis boleh jadi membius masyarakat konsumen untuk bertransaksi Meikarta.

YLKI pun sempat memprotes sebuah redaksi media masa cetak karena lebih dari 30 persennya berisi iklan full colour Meikarta. “Lima halaman penuh dari media cetak bersangkutan,” ujarnya seperti dilansir keterangan tertulis, 8 Agustus 2017.

Kampanye iklan Meikarta bisa dijumpai di perkantoran-perkantoran, pusat belanja, hotel, bandara, jembatan penyeberangan, kompleks perumahan, pasar modern, Stasiun Kereta bahkan di dalam lift serta mobil dan kendaraan pribadi.

Selain fenomenal, kampanya promosi Meikarta juga memorakporandakan pakem-pakem yang selama ini menghiasai konstelasi bisnis properti di Indonesia.

LUMPUHKAN PESAING

Dari segi harga, salah satunya. Proyek yang menempati area seluas 500 hektar ini ditawarkan dengan nominal sangat murah yakni Rp 6 juta hingga Rp 8 juta per meter persegi.

Angka ini, jauh lebih rendah dibanding harga rusunami Perumnas sekalipun. Sehingga tidak ada yang bisa menyaingi Meikarta dari segi harga.

Bahkan, proyek yang identitasnya diambil dari nama ibunda James Riady (Chairman Lippo Group), ini menyisakan realita kompetisi tak seimbang di kalangan pelaku bisnis properti.

Beberapa pengembang terpaksa menunda peluncuran proyek apartemen terbarunya, ketimbang harus hanyut ditelan eforia Meikarta. Tidak hanya pesaing dari developer lain. Project Lippo Sendiri yaitu Orange County juga terkena dampak dari badai Meikarta ini.

Direktur PT Metropolitan Land Tbk (Metland) Wahyu Sutistio menuturkan, perseroan saat ini lebih fokus pada pengembangan landed residential (perumahan tapak).

Metland juga memutuskan menunda peluncuran apartemen di kawasan yang tak jauh dari pengembangan Meikarta yakni, Tambun dan Cibitung, Kabupaten Bekasi.

“Kami memutuskan untuk menjadwal ulang peluncuran (reschedule) apartemen di Tambun dan Cibitung. Kami konsentrasi di perumahan,” ungkap Wahyu kepada KompasProperti, Jumat (8/7/2017).

Namun begitu, Wahyu tak bersedia merinci proyek apartemen mana saja yang ditunda peluncurannya oleh Metland.

Yang jelas, tambah dia, daripada kalah bersaing dan hanyut diterjang “banjir” Meikarta, lebih baik mencari waktu yang tepat.

Tak hanya Metalnd, menurut Wahyu, pengembang lain yang punya lahan berdekatan dengan Meikarta juga melakukan aksi wait and see.

Sementara sebagian lainnya yang kadung telah memasarkan apartemen pada semester II tahun ini, terganggu penjualannya.

Belum tiarap

Lepas dari kontroversinya, harus diakui kehadiran Meikarta secara tidak langsung telah menunjukkan bahwa bisnis properti di Indonesia masih ada, alias belum benar-benar tiarap.

Iklan mampu membangkitkan permintaan terhadap properti. Iklan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk kembali berinvestasi di properti. “Ini trigger agar properti bergairah kembali

Terbukti, penjualan Meikarta hingga Agustus 2017, telah menembus angka 99.300 unit. Tingkat penjualan ini sangat fantastis di tengah-tengah perlambatan ekonomi.

Kendati pun penjualan ini, diakui Direktur Informasi Publik Meikarta Danang Kemayan Jati hanya sebatas Nomor Urut Pemesanan (NUP), dan belum dihitung sebagai transaksi.

“Ini angin segar buat bisnis properti kita. Semua jadi terstimulasi untuk bangkit dan membangun,” kata Wahyu.

Hal senada juga dikatakan Direktur PT Ciputra Development Tbk Artadinata Djangkar. Menurut dia, cara habis-habisan Lippo Cikarang menjual Meikarta, mengundang respons pasar yang sangat besar.

“Di tengah kondisi pasar properti yang belum kuat, peluncuran Meikarta ini memberi sinyal adanya market confidence dari pihak pengembang dan direspons positif oleh pasar,” ucap Arta

 

MEIKARTA DI MATA PESAING

Meikarta boleh saja masih berbau kontroversi. Hal ini ditandai dengan pengakuan Direktur Informasi Publik Meikarta Danang Kemayan Jati, bahwa proyek raksasa seluas 500 hektar tersebut sudah dipasarkan kendati seluruh perizinan belum dikantongi.

Danang mengungkapkan fakta itu saat diskusi terbuka dengan Lembaga Ombudsman di Jakarta, Jumat (8/9/2017).

Namun demikian, toh Meikarta yang dikembangkan PT Lippo CikarangTbk ini tetap mendapat sambutan positif dari para pesaingnya. Sebut saja PT Metropolitan Land Tbk (Metland), PT Intiland Development Tbk,PT Summarecon Agung Tbk, dan PT Ciputra Development Tbk.

Proyek yang digadang-gadang sebagai Jakarta Baru ini dipandang mampu membangkitkan kembali gairah pasar properti Indonesia yang mengalami kelesuan dalam dua tahun terakhir.

Selain itu, Meikarta juga dinilai sebagai stimulus bagi para investor dan calon konsumen end user untuk membelanjakan uangnya di sektor properti.

 

Berikut pendapat para pesaing PT Lippo Cikarang Tbk:

Direktur PT Metropolitan Land Tbk Wahyu Sulistio:

Kehadiran Meikarta sangat fenomenal dan mampu memorakporandakan pakem-pakem yang selama ini ada di bisnis properti Indonesia. PT Lippo Cikarang Tbk bisa melakukan terobosan dari sisi harga yang sangat rendah yakni Rp 5 juta -Rp 7 juta per meter persegi. Dengan promosi jor-joran, terbukti banyak mendatangkan pembeli. Ini sekaligus merupakan sinyalemen positif bahwa bisnis properti Indonesia belum tiarap”

Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk Theresia Rustandi:

“Semua geliat developer berkontribusi terhadap optimisme industri properti. Kami di Intiland berprinsip bahwa pengembang itu saling melengkapi di satu wilayah. Sama-sama saling memastikan agar semua proyek bisa sukses sehingga wilayah tersebut (Cikarang) berkembang dan memberikan benefit maksimal ke seluruh stakeholder.”

Direktur PT Ciputra Development Tbk Harun Hajadi:

” Menurut saya yang patut dicatat adalah Meikarta keluar dengan harga yang rendah sekali dan menjadi cukup disruptive (mengganggu). Lepas dari itu, Meikarta bisa signifikan karena promosi yang gencar dengan budget yang luar biasa.”

Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Adrianto P Adhi:

“Hadirnya kompetitor (Meikarta) menurut kami bagus agar bisnis properti tetap dinamis dan bisa segera pulih kembali. Karena itu, kami tetap confidence bahwa Summarecon tetap dipercaya sebagai pengembang yang punya konsistensi dalam menjaga komitmennya kepada konsumennya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *